Translate

Senin, 25 Juni 2012

Gerak pada tumbuhan

Seperti halnya hewan, tumbuhan pun peka terhadap rangsangan dan dapat memberikan reaksi terhadap rangsangan yang diterimanya. Kepekaan terhadap rangsangan disebut iritabilitas. Pada hewan, rangsangan yang diterima oleh alat indera (alat penerima rangsang), disampaikan ke saraf pusat melalui urat saraf, sedangkan pada tumbuhan tidak mempunyai urat saraf. Meskipun tumbuhan tidak mempunyai urat saraf, plasma selnya tidak berdiri sendiri. Sel yang satu dengan sel yang lain pada tumbuhan dihubungkan oleh benang-benang plasma yang disebut plasmodesmata. Rangsangan dari sel ke sel yang lain diteruskan melalui plasmodesmata ini. Tanggapan (respons) terhadap rangsangan dari luar dan maupun dari dalam pada tumbuhan akan menimbulkan gerak.
Jika diperhatikan sepintas, terasa janggal jika dikatakan tumbuhan melakukan gerak, tetapi jika diamati dalam beberapa hari ternyata tumbuhan itu melakukan gerak. Banyak organisme tingkat rendah, terutama yang bersel satu dapat bergerak atau berpindah-pindah tempat. Bakteri, ganggang satu sel, spermatozoa tumbuhan lumut, dan tumbuhan paku dapat begerak dengan bebas dalam air.
Gerak yang dilakukan tumbuhan tingkat tinggi sebetulnya berupa pertumbuhan yang tidak seimbang, contohnya membeloknya ujung batang ke arah sinar matahari. Di samping itu, juga dikenal ada gerak yang berupa pembengkokan bagian tumbuhan akibat perbedaan tekanan turgor pada jaringan. Gerak ini dilakukan oleh bagian tumbuhan yang bersendi, contohnya tumbuhan putri malu.
Gerak pada tumbuhan dibedakan berdasarkan bagian yang bergerak dan faktor-faktor yang mempengaruhi gerak, sebagai berikut.
·        Gerak tanpa dipengaruh rangsangan dari luar
·        Gerak karena pengaruh rangsangan dari luar.

A.   Gerak Tanpa Dipengaruhi  Rangsangan dari Luar
1.   Gerak Higroskopis

Apa yang menyebabkan gerak higroskopis? Gerak ini terjadi karena perubahan kadar air dalam sel atau mengembangnya dan mengkerutnya sel-sel yang tidak merata pada waktu kehilangan atau memperoleh air. Contoh, membuka dan menutupnya kotak spora tumbuhan lumut atau paku karena bergeraknya gigi peristomnya. Gigi peristom merapat karena selnya melepaskan air akibat udara kering. Gerak pecahnya sel-sel anulus pada kotak spora tumbuhan paku (Gambar 1). Contoh yang lain adalah gerak pecahnya buah tumbuhan untuk melemparkan bijinya keluar seperti buah polong-polongan, buah jarak.


Gambar 1. Gerak pecahnya kotak spora tumbuhan paku

2.   Gerak yang Belum Diketahui dengan Jelas Penyebabnya           
Apa yang menyebabkan gerakan ini? Gerak ini disebut juga gerak endonom karena rangsangan yang menyebabkan terjadinya gerak diduga berasal dari dalam. Mengenai gerak ini ada yang beranggapan terjadi dengan sendirinya tanpa penyebab, oleh karena itu dinamakan juga gerak otonom. Contoh, gerak plasma sel. Gerakan plasma ini disebut juga gerakan Brown. Hal ini dapat dilihat pada sel-sel tumbuhan Elodea virginiana dilihat dengan mikroskop.

3.   Gerak akibat kecepatan pertumbuhan yang tidak merata dan bergantian.
Contoh gerak ini adalah gerak membentangnya daun tumbuhan paku yang sudah agak tua. Gerak pada pucuk daun yang muda yang tadinya menggulung menjadi mendatar, gerak berbentuk spiral ujung-ujung batang atau sulur dari daun Desmodium sp. Gerak berstruktur spiral ini dikenal juga sebagai gerak nutasi.


Gambar 2. Gerak Nutasi pada Tumbuhan

B.     Gerak yang Dipengaruhi oleh Rangsangan dari Luar (Gerak Etionom)

1.        Taksis
  Taksis adalah gerak berpindah tempat seluruh tumbuhan atau seluruh bagian tumbuhan (organisme) menuju atau menjauhi datangnya rangsangan. Gerakan tersebut pada umumnya akan menuju rangsangan yang menguntungkan dan menjauhi rangsangan yang merugikan. Gerak taksis ini dibedakan lagi berdasarkan macam rangsangan yang menyebabkannya, sebagai berikut. 
a.   Fototaksis (Greek, photos = cahaya, taxis = gerak menuju atau menjauhi rangsang)
Fototaksis adalah gerak pindah tempat menuju atau menjauhi  rangsangan cahaya. Telah disepakati bahwa gerak menuju cahaya disebut fototaksis positif, sedangkan yang menjauhi cahaya disebut fototaksis negatif. Contoh, gerak Euglena Sp. dan ganggang hijau satu sel menuju cahaya yang diperlukannya untuk berfotosintesis; kloroplas dalam sel juga bergerak ke sisi yang mendapatkan cahaya; gerak serangga menuju ke lampu neon atau lampu lainnya.
Gerak pindah tempat tersebut tidak hanya dilakukan oleh organisme satu sel dan hewan, tetapi dapat juga dilakukan oleh bagian dari tumbuhan, misalnya gerak kotak spora jamur Pilobolus mengarah ke cahaya. Jika jamur ini dimasukkan ke dalam kotak yang salah satu dinding kotaknya diberi jendela kaca, jendela kaca tersebut ditutup dengan penutup yang tembus cahaya. Setelah beberapa hari, jamur Pilobolus membentuk spora, penutup kaca diambil, akan kelihatan sporangiumnya mengarah ke dinding kotak yang ada kacanya dan adanya spora-spora jamur yang menempel pada dinding kaca. Spora-spora ini terlempar dari sporangium Pilobolus ke dinding kaca itu. Gerak kotak spora Pilobolus ini merupakan fototaksis positif.

b.   Kemotaksis (Gr. chemo = kimia + taxis)
Kemotaksis adalah gerak pindah tempat bagian tumbuhan menuju atau menjauhi rangsangan zat kimia. Gerakan bagian tumbuhan yang mendekati zat kimia disebut kemotaksis positif, sedangkan gerakan menjauhi zat kimia yang bersifat racun disebut kemotaksis negatif. Contohnya, gerak spermatozoid pada arkegonium tumbuhan lumut dan tumbuhan paku yang mengandung sukrosa atau asam maleat. Buluh serbuk sari di kepala putik akan tumbuh menuju ke bakal buah karena adanya larutan gula, gerak ini juga termasuk kemotaksis  positif. Apa lagi contoh yang lain?

Gambar 3 . Gerak kemotaksis buluh serbuk sari ke stigma

Bakteri aerob di dalam percobaan Engelman, juga melakukan gerak kemotaksis positif. Pada percobaan Engelman, ganggang hijau (Spirogyra sp) dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Ganggang tersebut disinari dari satu arah. Bagian kloroplas yang kena cahaya akan melakukan fotosintesis. Sebagai hasil fotosintesis, selain dihasilkan glukosa juga dikeluarkan oksigen. Dari percobaan ini akan kelihatan adanya gelembung-gelembung udara. Bakteri yang bersifat aerob akan kelihatan berkerumun di sekitar kloroplas ganggang yang kena cahaya tersebut.
Gerak kemotaksis juga terjadi pada Protozoa seperti amuba. Amuba akan melakukan gerak kemotaksis positif terhadap rangsangan makanan atau oksigen dan kemotaksis negatif terhadap rangsangan karbondioksida yang melimpah atau zat-zat yang bersifat racun. Bakteri Escherichia coli akan bergerak ke arah larutan yang mengandung glukosa, fruktosa, atau asam amino.

2.   Tropisme (Gr. trope = membelok)
Tropisme adalah gerak pertumbuhan dari bagian tubuh tumbuhan ke arah rangsangan atau menjauhi sumber rangsangan. Gerak tropisme ini dibedakan atas beberpa jenis yaitu sebagai berikut.

a.   Fototropisme (Gr. photos + trope)
Fototropisme adalah gerak pertumbuhan tumbuhan menuju atau menjauhi sinar (cahaya matahari). Telah disepakati bahwa gerak pertumbuhan menuju rangsangan disebut tropisme positif, sedangkan gerak menjauhi sumber rangsangan disebut tropisme negatif. Contohnya, pertumbuhan ujung batang membelok ke cahaya. Hal ini dapat dilihat pada tumbuhan yang ditanam dalam pot yang ditempatkan dalam rumah dekat jendela (lihat Gambar 4). Gerak daun dan ujung batang menuju cahaya disebut fototropisme positif, sedangkan gerakan ujung akar menjauhi cahaya adalah fototropisme negatif.
Gambar 4 : Fototropisme positif pada tumbuhan yang diletakkan di jendela

Bagi tumbuhan nilai respons ini sangat berguna, akar tumbuhan yang tumbuh ke bawah menjauhi cahaya tujuannya untuk mendapatkan air dan garam-garam mineral yang ada dalam tanah. Batang (pucuk) tumbuhan mengarah ke atas (ke cahaya) akan membuka daun-daunnya agar fotosintesis dapat berlangsung. Mekanisme respons fototropisme belum semuanya diungkapkan oleh para ahli.
Charles Darwin dan putranya Francis (1928) menemukan bahwa benih tumbuhan rumput tumbuh membelok ke cahaya jika pucuk yang sedang tumbuh (koleoptil) sudah ada. Akan tetapi jika koleoptil itu dipotong, tumbuhan rumput tersebut tidak lagi menunjukkan fototropisme positif. Mereka juga menemukan jika ujung tumbuhan dibungkus dengan kertas yang tidak tembus cahaya, fototropisme positif tidak terjadi walaupun sisa pucuknya disinari dari satu sisi (lihat Gambar 5). Apa yang menyebabkan terjadi demikian?

Gambar 5. Percobaan Darwin dan putranya

Darwin menyimpulkan bahwa yang bertanggung jawab atas penginderaan cahaya adalah ujung koleoptil. Namun respon pertumbuhan yang terjadi berada di bawah ujung koleoptil. Darwin dan putranya berhipotesis bahwa sinyal dipindahkan dari ujung ke arah bawah memanjang pada koleoptil tersebut. Beberapa tahun kemudian Peter Boysen-Jensen dari Denmark menguji hipotesis Darwin dan putranya menunjukkan bahwa sinyal tersebut merupakan suatu jenis bahan kimia yang dapat pindah tempat. Boysen-Jensen memisahkan ujung koleoptil dengan bagian bawahnya dengan gelatin yang memisahkan sel-sel untuk kontak dengan koleoptil, tetapi dapat melewatkan bahan kimia, benih tersebut membelok ke arah cahaya. Akan tetapi jika ujung koleoptil tersebut dipisahkan dari bagian bawahnya oleh bahan yang tidak dapat dilewati oleh bahan kimia (mika), tidak terjadi respon fototropisme (lihat Gambar 6).
Gambar 6. Percobaan Boysen dan Jensen

F.W. Went (1928) seorang ahli fisiologi dari Holland mengekstraksi pembawa pesan kimia tropisme tersebut dengan memodifikasi percobaan Boysen-Jensen. Went memotong koleoptil  tumbuhan dan meletakkannya di atas sepotong agar-agar. Ia berpendapat bahwa pembawa pesan kimia itu berasal dari ujung koleoptil, seharusnya bahan kimia tersebut berdifusi ke dalam agar-agar dan potongan agar tersebut dapat menggantikan ujung koleoptil itu. Went menempatkan agar-agar tersebut ke koleoptil yang sudah dipotong ujungnya. Dan benih tumbuhan tersebut diletakkan di tempat gelap. Potongan agar yang diletakkan di tengah potongan koleoptil menyebabkan batangnya tumbuh lurus ke atas (lihat Gambar 7). Apa yang menyebabkan terjadinya hal demikian?
Gambar 7. Percobaan Went ke 1
Gambar 8 . Percobaan Went ke II

Akan tetapi jika potongan agar-agar itu ditempatkan tidak ditengah, maka koleoptil tumbuh membengkok menjauhi sisi yang ada potongan agar-agarnya (Gambar 8). Went menyimpulkan bahwa potongan agar tersebut mengandung bahan kimia yang dihasilkan oleh ujung koleoptil dan bahan tersebut merangsang pertumbuhan pada waktu bahan itu dialirkan ke bawah dari koleoptil dan pucuk akan membengkok ke arah cahaya karena konsentrasi bahan kimia perangsang pertumbuhan lebih tinggi pada sisi koleoptil yang gelap. Went menggunakan nama auksin untuk bahan kimia tersebut (hormon). (Bahasa Yunani auxein artinya meningkatkan).
Auksin itu dimurnikan dan kemudian Kenneth Thimann dan temannya dari California menemukan struktur auksin tersebut. Hormon ini  diidentifikasi sebagai indol asetic acid (disingkat IAA). Kemudian beberapa zat yang analog (molekul dengan fungsi yang sama) dengan auksin juga disintesis untuk menggiatkan pemanjangan koleoptil. Beberapa auksin sintesis ini adalah 2.4 D (2,4 diklorofenoksiasetic acid) dan NAA (naftalen acetic acid). Nama auksin sekarang merupakan istilah umum yang berhubungan dengan IAA atau zat lain yang mempunyai pengaruh yang sama. Setelah ditemukan auksin ini ditemukan hormon yang lainnya pada tumbuhan, contohnya giberelin, sitokinin, dan asam absisat.
Dari hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa fototropisme ini terjadi akibat ketidakseimbangan distribusi hormon auksin pada waktu tumbuhan disinari dari satu arah. Percobaan terhadap koleoptil tanaman jagung yang ditempatkan dalam kamar gelap menunjukkan terjadi pembelokan ujung koleoptil setelah diberi penyinaran di satu sisi. Hal ini disebabkan karena penyebaran auksin yang tidak sama mengalir dari ujung koleoptil ke sisi yang diberi cahaya dan sisi yang tidak diberi cahaya. Perbedaan jumlah auksin ini merangsang pemanjangan sel di satu sisi dan pembelokan ke arah sisi lain. Auksin di bagian yang disinari pindah tempat ke bagian yang tidak kena sinar dan menyebabkan pada bagian yang tidak disinari auksin lebih banyak. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan di bagian yang tidak disinari meningkat dibandingkan yang kena sinar, sehingga tumbuhnya membelok.
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa cahaya yang unilateral pada tangkai bunga matahari menyebabkan auksin yang tidak merata. Namun, penyebaran yang tidak merata pada sisi tangkai bunga tumbuhan tersebut dapat bertindak sebagai penghambat pertumbuhan di satu sisi.
Kita telah mengetahui bahwa penyinaran sebelah sisi dari pertumbuhan batang, menyebabkan redistribusi auksin menjauhi sisi yang menerima cahaya, yang menyebabkan perpanjangan di sebelah sisi yang tidak kena cahaya. Tampaknya, bahwa pigmen-pigmen yang menyerap cahaya biru mempengaruhi redistribusi hormon Indol asam asetat (IAA) ini. Hal ini mempengaruhi fototropisme pada batang. Bagaimana terjadinya fototropisme negatif pada akar?
Telah ditemukan bahwa konsentrasi IAA yang optimum terhadap perpanjangan sel-sel akar kira-kira 100.000 kali kurang daripada konsentrasi IAA yang optimum untuk pemanjangan sel-sel batang (Gambar 9). Jadi dengan perkataan lain konsentrasi IAA yang menstimulus pertumbuhan batang akan menghambat pertumbuhan akar. Jika sistem akar tanaman (dalam air) disinari dari salah satu sisi, batang akan mengarah ke cahaya. Pada akar, auksin akan banyak pada bagian yang jauh dari cahaya, konsentasi yang tinggi itu akan menghambat pertumbuhan akar yang tidak kena cahaya, sehingga pada sisi yang berlawanan tumbuh lebih cepat, sehingga akar akan memanjang menjauhi cahaya. Tingginya intensitas cahaya dan lamanya penyinaran mempengaruhi gerakan fototropisme pada tumbuhan.
Gambar 9.
Grafik efek konsentrasi auksin yang berbeda pada akar dan batang

Gambar 10. Perpindahan auksin kesisi lain pada kecambah gandum

b.   Geotropisme (Gr. geo = bumi + trope = membelok) adalah gerak bagian tumbuhan menuju atau menjauhi pusat bumi. Gerak ujung akar utama merupakan geotropisme positif, sedangkan gerak tumbuh batang adalah geotropisme negatif. Hal ini dapat diperlihatkan dengan percobaan tanaman jawer kotok dalam pot berdiri tegak, kemudian dibaringkan selama empat hari akan kelihatan pertumbuhan batang (pucuk) membelok ke atas. (lihat Gambar 11). Dapat juga dilihat pada kecambah yang dibaringkan setelah 24 jam kelihatan pucuk mengarah ke atas sedangkan akarnya menuju ke bawah (Gambar 12).
Tumbuhan dapat membedakan atas dan bawah dengan adanya pengendapan statolit yaitu plastid khusus yang mengandung butiran-butiran pati pada sel-sel yang lebih rendah letaknya. Pada akar statolit terletak pada sel-sel tertentu di tudung akar. Menurut hipotesis, penumpukan statolit pada sel-sel yang bagian rendah akan memicu pendistribusian kalsium dan menyebabkan terjadi transpor auksin secara lateral pada akar. Auksin dan kalsium akan terakumulasi di sisi yang lebih rendah pada daerah pemanjangan akar. Pada akar, konsentrasi auksin yang tinggi akan menghambat pemanjangan sel dan memperlambat pertumbuhan pada bagian yang lebih rendah pada akar tersebut. Geotropisme positif ini akan terus terjadi sampai akar tumbuhan tersebut tumbuh lurus ke bawah.
Gambar 11. Batang menunjukkan geotropisme negatif
      Gambar 12. Pucuk geotropisme negatif, akar geotropisme positif

Gerak fototropisme maupun gerak geotropisme dikontrol oleh hormon auksin. Jika tanaman diletakkan secara horizontal, batang akan mengarah ke atas dan akar akan menuju ke bawah (Gambar 11). Jika tumbuhan diletakkan ditempat yang gelap, tumbuhan akan tergantung pada gravitasi dan tidak dipengaruhi oleh cahaya. Jika tanaman diletakkan secara horizontal akan memperlihatkan bahwa dua pertiga auksin akan berada di sebelah bawah baik pada bagian ujung batang maupun pada akar bagian apeks. Jadi hormon bergerak ke sel-sel yang akan mengalami pemanjangan, oleh sebab itu hormon karena pengaruh gaya tarik bumi berada di sebelah bawah. Akibatnya pada akar terjadi pemanjangan sel-sel pada daerah yang sedikit hormon, sehingga akar akan membelok ke bawah, sedangkan pada pucuk sebaliknya (Gambar 13).

Gambar 13 . Interaksi gravitasi dan auksin mengontrol gerak batang dan akar

c.  Tigmotropisme (Gr. thigma = singgungan atau sentuhan, trope = mengarah/membelok)
Tigmotropisme adalah gerak dari bagian tumbuhan yang membelok akibat persinggungan dengan suatu benda (lihat Gambar 14). Gerakan ini dapat dilihat pada ujung batang atau sulur tumbuhan memanjat yang membelit pada bambu atau ranting pohon, seperti tanaman anggur, kacang panjang, kacang buncis, mentimun, markisa, atau paria. Umumnya organ pelilit ini tumbuh lurus sampai dia menyentuh sesuatu, setelah menyentuh bambu atau benda lainnya, tanaman itu akan melilit. Apa yang menyebabkan terjadinya hal demikian?
Pertumbuhan lebih cepat terjadi pada bagian yang tidak kena sentuh. Hal ini diduga disebabkan oleh peningkatan produksi etilen sebagai tanggapan terhadap rangsang mekanis.
Gambar 14 . Gerak Tigmotropisme pada sulur tanaman markisa

d.   Hidrotropisme (Hydro = air, trope = mengarah/membelok)
Hidrotropisme adalah gerakan yang dilakukan tumbuhan sebagai respon terhadap rangsangan yang berupa air. Akar tumbuhan akan melakukan gerak hidrotropisme positif. Kadang-kadang didapatkan bahwa respon atau reaksi tumbuhan terhadap rangsangan air lebih besar, jika dibandingkan dengan rangsangan gaya tarik bumi.
3.   Nasti
Nasti (Gr. nastic= perubahan posisi) adalah gerak bagian tumbuhan yang disebabkan adanya rangsangan dari luar, tetapi gerakannya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan. Gerak nasti ini dibedakan lagi atas beberapa macam yaitu sebagai berikut.

a.   Tigmonasti (Gr. thigma=sentuhan + nastic)
Tigmotropisme adalah gerakan menutup yang terjadi pada daun tumbuhan yang disebabkan oleh sentuhan. Gerak ini dapat dilihat, jika daun tanaman putri malu (Mimosa pudica) disentuh, daun-daun tumbuhan tersebut akan menutup atau melipat (lihat Gambar 15). Tanggapan terhadap sentuhan ini memerlukan waktu satu atau dua detik. Apa yang menyebabkan daun-daun putri malu ini menutup? Hal ini disebabkan oleh kehilangan tekanan turgor secara tiba-tiba dalam sel-sel parenkim pada pulvinus dekat tangkai daun (petiolus) tumbuhan putri malu tersebut. Jika yang disentuh hanya ujung anak-anak daun saja, maka yang akan melipat berpasang-pasangan dari ujung ke pangkal daun, disusul daun berikutnya di sepanjang batang itu, demikian seterusnya sampai semua daun melipat. Seolah-olah ada  rangsang yang mengalir dari daun ke daun yang lain. 
Apa yang menyebabkan gerakan tersebut? Pada waktu daun disentuh atau rangsangan panas, sel-sel kehilangan kalium yang menyebabkan air keluar dari sel-sel pulvinus  bagian bawah pangkal daun dan masuk ke ruang antar sel secara osmosis, akibatnya tekanan turgor sel-sel itu menurun dan turgor sel-sel bagian atas tetap sama (Gambar 14). Hal ini menyebabkan petiolus bergerak ke bawah, sedangkan anak-anak daun bergerak ke atas (menutup). Setelah sepuluh menit turgor akan kembali normal, sehingga daun kembali seperti keadaan semula.
Gambar 15.   a . Tumbuhan putri malu sebelum disentuh.
b.Tumbuhan putri malu setelah disentuh.
Gambar 16.  Pulvinus pada saat tekanan turgor tinggi

Dari titik perangsangan, rangsang ini mengalir seperti gelombang ke seluruh tumbuhan itu dengan kecepatan kira-kira satu centimeter per detik. Pembawa pesan kimia ini diduga memiliki peranan dalam pemindahan ransang ini. Dalam hal ini, suatu rangsang listrik dapat dideteksi dengan cara menempelkan elektroda pada tumbuhan tersebut. Rangsang ini disebut potensial aksi yang mirip dengan pesan rangsang pada hewan, walaupun lebih lambat ribuan kali.
Fungsi tingkah laku tumbuhan yang sensitif ini masih mengundang tanda tanya. Diduga dengan cara melipat daunnya dan mengurangi luas permukaan pada waktu diterpa angin kencang, tumbuhan dapat menghemat air. Barangkali dengan melipatnya daun, duri-duri dahan akan menonjol, sehingga hewan pemakan tumbuhan mengurungkan niatnya untuk memakan daun-daunnya.
Contoh lain gerak tigmonasti adalah menutupnya kantung semar, setelah serangga masuk ke dalam kantong tersebut (lihat Gambar 17). Menutupnya daun-daun tanaman penangkap lalat venus (Dianaea sp.), setelah lalat masuk (Gambar 18). Gerak pada daun penangkap lalat tersebut disebabkan potensial aksi dari rambut-rambut sensoris daun dihantarkan pada sel-sel yang merespon dengan menutup daun perangkap tersebut.
Gambar  17 : Tumbuhan kantung semar
Gambar 18. Daun tumbuhan penangkap lalat menutup setelah lalat masuk.

b.   Niktinasti
Niktinasti adalah gerak tidur daun tumbuhan yang disebabkan oleh tidak adanya cahaya matahari (terjadinya malam hari). Gerakan ini dapat dilihat pada daun-daun Oxalis sp (calincing) (Gambar 19) dan tumbuhan leguminosae, seperti daun-daun flamboyan, kembang merak, petai cina, dan daun tanaman asam jawa (Tamarindus indica) yang menutup malam hari. Daun-daun ini merundukkan daunnya pada malam hari dan menaikkan daunnya pada posisi horizontal pada siang hari. Gerakan tidur ini disebabkan oleh perubahan harian pada tekanan turgor dalam sel-sel pulvinus. Pada waktu daun pada posisi horizontal, sel-sel pada satu sisi pulvinus akan membengkak (tekanan turgor tinggi), sementara sel-sel pada sisi yang berlawanan akan mengkerut. Keadaan ini akan terbalik pada waktu malam hari daun menutup ke posisi tidur. 
Gambar 19: Daun Oxalis menutup pada malam hari

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Jika menanam tanaman supaya tumbuhnya lurus jangan diletakkan di tempat yang kena cahaya dari satu arah, karena tumbuhan yang kena penyinaran dari satu arah akan terjadi pembelokan ke arah cahaya. Petani yang menanam pohon jati, umumnya menanam pohon jati tersebut agak rapat agar pohon itu tumbuh tinggi dan lurus.
Pada waktu kita menanam batang pohon singkong diusahakan jangan terbalik, karena pucuk tanaman singkong itu akan tumbuh lama karena memerlukan waktu untuk tumbuh menuju ke atas. Begitu juga jika mau menanam tanaman yang distek lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar